About me

Feeds RSS
Feeds RSS

Selasa, 11 Juni 2013

Pengantar Teori Sastra



HANDOUT
Pengantar Teori Sastra


Kedudukan Teori Sastra

Secara umum, sastra mencakup dua bidang, yakni bidang karya sastra dan bidang ilmu sastra. Kedua bidang tersebut saling berkait. Karya sastra muncul lebih dahulu dibandingkan ilmu sastra. Dengan kata lain ilmu sastra muncul setelah ada karya sastra. Ilmu sastra ada karena adanya karya sastra.
Menurut Wellek dan Warren (1989: 37-46) di dalam wilayah ilmu sastra terdpat tiga bidang, yakni teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Teori sastra adalah studi tentang prinsip, kategori, dan criteria karya sastra. Sejarah sastra adalah adalah studi tentang kelahiran dan perkembangan karya sastra dari awal samapai sekarang. Kritik sastra adalah studi tentang tentang karya sastra secara konkrit, yakni pemberian penilaian atas suatu karya sastra dalam bentuk member pujian, mengatakan kesalahan, member pertimbangan lewat pemahaman dan penafsiran yang sistematik.
Ketiga bidang tersebut berhubungan secara timbale balik. Teori sastra dapat menjadi patokan bagi pelaksanaan sejarah sastra dan kritik sastra. Sejarah sastra dapat menjadi pegangan bagi pelaksanaan kritik sastra  dan hasilnya dapat menjadi masukan  bagi teori sastra. Sedangkan kritik sastra dapat menjadi masukan bagi penyusunan sejarah sastra dan teori sastra.Studi sastra adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berkembang terus.

Definisi Sastra

Kesusastraan merupakan bentuk dari susastra yang mendapat konfiks ke-an. Menurut Teeuw (1988 : 23) kata susastra berasal dari bentuk su dan sastra. Kata sastra itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta, akar kata sas  yang dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, member petunjuk atau intruksi. Akhiran tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran, yang indah dan baik. Kata susastra itu sendiri tidak terdapat dalam bahasa sansekerta dan Jawa kuna. Jadi bentuk susastra adalah ciptaan Jawa atau Melayu.
Sementara itu, konfik ke-an dalam bahasa Indonesia menunjukkan “kumpulan” atau “hal yang berhubungan dengan”. Dengan demikian secara etimologis istilah kesusastraan berarti kumpulan atau hal yang berhubungan dengan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran yang indah atau baik. Indah atau baik tersebut dapat merujuk pada isi yang disampaikan  maupun merujuk pada alat untuk menyampaikan yaitu bahasa.
Pada sisi lain, banyak batasan yang telah muncul tentang sastra. Diantara batasan yang dimaksud adalah:
1.      Sastra adalah fenomena bahasa (seni bahasa)
2.      Sastra adalah ungkapan perasaan yang mendalam
3.      Sastra merupakan ekspresi pikiran dalam bahasa. Sedang yang dimaksud “ pikiran” disini adalah pandangan, ide-ide perasaan, pemikiran dan semua kegiatan mental manusia.
4.      Sastra adalah inspirasi buku yang memuat perasaan manusia yang mendalam dan kekuatan moral dengan sentuan kesucian, kebebasan pandangan, dan bentuk yang mempesona.
Secara ontologis Sumardjo dan Saini K.M. (1988 : 3) merangkum batas batas tersebut menjadi sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
Selain itu, sastra juga dapat dibatasi sebagi (a) segala sesuatu yang tertulis dan tercetak; (b) Maha karya, buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya, criteria yang dipakai segi estetiknya, atau nilai estetis dikombinasikan dengan nilai ilmiah; (c) sastra sebagai karya imajinatif, fiksi.

Hakikat Sastra
Batasan-batasan tentang yang telah muncul belum ada yang secara tepat mendifinisikan tentang sastra. Meskipun demikian, menurut Sumardjo dan saini K.M. (1998:3) ada empat insur yang selalu muncul dalam beberapa batasan yang telah ada, yakni 1) sastra berupa pikiran, perasaan, pengalaman, ide ide, semangat dan keyakinan, 2) ekspresi atau ungkapan, yakni upaya mengeluarkan sesuatu dalam diri manusia, dan 3) bahasa, yakni bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi.
   Untuk melihat pemakaian bahasa yang khas sastra, harus dibedakan bahasa sastra, bahasa ilmiah, dan bahasa sehari-hari. Paling mudah membedakan bahasa ilmiah dengan bahasa sastra. Sedangkan bahasa sastra dan bahasa sehari-hari terdapat perbedaan yang khas.
   Rene Wellek dan Austin Warren membandingkannya dengan bahasa ilmiah dan percakapan sehari-hari. Menurut renne wellek dan Austin Warren (1989: 5-16) bahasa ilmiah berupa “denotative” artinya terdapat kecocokan antara tanda dan yang diacu. Tanda sepenuhnya bersifat Arbitrari ( dipilih secara kebetulan, tanpa aturan tertentu), jadi dapat digantikan oleh tanda lain yang sama artinya. Tanda juga bersifat maya, tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tapi menunjuk langsung pada yang diacu, jadi bahasa ilmiah cenderung menyerupai tanda siatem matematika atau logika simbolis.
Cirri bahasa sastra adalah konotatif artinya menggambarkan perasaan sehingga bersifat ambigu dan homonym ( kata-kata  yang sama bunyinya tapi beda artinya). Serta memiliki katagori-katagori yang tak beraturan dan tak rasional seperti gender (jenis kata yang mengacu pada jenis kelamin). Bahasa sastra juga  penuh asosiasi, mengacu pada ungkapan atau karya yang hanya mengacu pada satu hal tertentu. Bahasa sastra mempunyai fungsi ekspresif, yang menunjukkan nada dan mempengaruhi, membujuk, dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Bahasa sastra adalah  tanda simbolisme suara hati. Berbagai macam teknik diciptakan (misalnya aliterasi dan pola suara) untuk menarik perhatian pembaca pada kata-kata dalam karya sastra. Bahasa sastra berkaitan lebih mendalam dengan struktur historis bahasa. Selain itu memiliki segi ekspresif dan pragmatic yang dihindari sejauh mungkin oleh bahasa ilmiah.
Wellek dan Warren (1989:16-18) mengatakan bahwa perbedaan antara bahasa sastra dan bahasa sehari-hari dapat dilihat dari tiga hal. 1) secara kuantitatif dalam karya sastra sarana-sarana bahasa dimanfaatkan  secara lebih sistematis dan dengan sengaja. 2) secara pragmatis bahasa sastra tidak mendorong seseorang melakukan tindakan langsung yang kongkret, seni menciptakan sejenis kerangka yang menempatkan setiap pertanyaannya di luar dunia nyata. 3) aspek refrensialnya (acuan), acuan dari segala sesuatu yang ada di dalam karya sastra adalah dunia fiksi atau imajinasi peryataan dalam sebuah karya sastra tidak dapat dianggap benar secara harfiah, dan juga bukan merupakan prosisi logis.




Ciri-Ciri Sastra

Karya sastra memiliki cirri utama, fiktif, rekaan, imajinatif, menggunakan bahasa yang khas. Fitif dapat juga berarti  rekaan, bukan sesuatu yang nyata atau sesuatu yang dikontruksikan. Ciptaan artinya diadakan oleh pengarang, sengaja diciptakan pengarang. Imajinatif berarti imaji, gambaran, penggambaran tentang sesuatu. Penggunaan bahasa yang khas berarti penggunaan bahasa yang berbeda dengan bahasa ilmiah maupun bahasa percakapan sehari-hari.
Dalam karya sastra juga terdapat  unsur; 1) kesatuan dalam keragaman (unity variety), 2) kontemplasi  objektif (  disinterested contemplation), 3) distansi estetis (aesthetic distance ), 4) framing, penciptaan kerangka seni, 5) ciptaan (invention), imajinasi (imaniganation), dan kreasi (creation). Sastra mempunyai cirri khas yaitu memiliki kualitas estetis.
Fungsi Sastra
Sifat dan fungsi sastra selalu mengalami perubahan di setiap masa. Karya sastra berfungsi sebagai dulce et utile indah dan berguna. Karya sastra dapat memberikan rasa keindahan dan sekaligus berguna bagi pembaca. Karya sastra juga berfungsi menghibur dan bermanfaat (horaitus). Menurut aristotelis karya sastra berfungsi sebagai “katarsis”, sastra  dapat berfungsi untuk membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi, mendapatkan ketentraman pikiran atau penyucian jiwa.
Sedangkan menurut Braginsky, seorang ahli sastra Melayu dari Rusia dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa sastra melayu klasik mempunyai empat fungsi; yaitu fungsi hiburan, fungsi kemanfatan, fungsi cerminan, dan fungsi kesempurnaan jiwa.
Wellek dan warren  menyampaikan bahwa karya sastra mempunyai banyak kemungkinan fungsi. Fungsi utama adalah kesetiaan pada sifatnya sendiri. Para pembela sastra menganggap hal tersebut sebagai masalah abadi dan bukan sekedar pergaulan dengan bidang-bidang lain untuk bertahan hidup. Pengalaman bahwa sastra memiliki nilai yang unik nampaknya memang sangat mendasar pada setiap teori yang membahas nilai sastra. Salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologinya.



Genre Sastra Puisi
Jenis karya sastra yang imajinatif meliputi puisi, prosa dan drama. Bentuk puisi meliputi epic, lirik dan dramatic. Bentuk prosa meliputi novel, cerpen, cerbung, novelette. Diantara prosa dan puisi terdapat bentuk prosa liris. Bentuk drama dapat berwujud drama komedi, tragedy, melodrama, tragic komedi. Di Indonesia pada umumnya sastra  meliputi tiga genre yaitu, puisi, prosa dan drama.
Karakteristik puisi adalah pemadatan, yakni pemadatan (pemusatan). Bahasa dalam puisi itu “padat  dan berisi”. Padat berarti ringkas, singkat, pendek, sedangkan berisi berarti mengandung makna yang luas dan dalam.
Struktur atau bangunan puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik puisi meliputi diksi, pengimajian, kata kongkret, bahasa figurative (majas), tipografi (tata wajah), dan versifikasi yang mencakup rima dan metrum. Istilah lain struktur batin puisi adalah makna puisi atau hakikat puisi. Struktur batin puisi meliputi tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat.
Jenis – jenis puisi dapat dikatagorikan dari aspek bentuk, aspek isi, dan aspek bahasanya. Dari aspek bentuk, puisi  dapat berbentuk epic, lirik,dan dramatic. Puisi epic adalah puisi yang berkisah tentang kepahlawanan seseorang yang biasanya merupakan penulisan ulang sebuah epic rakyat. Istilah lainnya epos atau wira carita. Lirik adalah jenis puisi yang biasanya dapat dapat dilagukan, biasanya mengungkapkan pengalaman perasaan subjektivitas yang lebih  bersifat pribadi. Dramatik adalah puisi yang didramakan atau puisi yang dapat diubah menjadi drama.
Dari aspek isi, puisi terbagi atas puisi ide dan puisi lanskap. Puisi ide adalah puisi yang di dalamnya terkandung gagasan, ide penyair (ide, kritikan, anjuran). Sedangkan puisi hanya lanskap hanya melukiskan keadaan (pandangan).
Dari aspek penggunaan bahasanya, puisi dikategorikan menjadi puisi prasmatis dan diaphan. Puisi prasmatis adalah puisi yang banyak menggunakan kiasan, lambang. Puisi ini perlu penafsiran untuk memahaminya. Sedangkan puisi diaphan atau puisi prosaic adalah puisi yang bahasanya terbuka, biasanya sedikit menggunakan kiasan atau perlambang.




Genre Sastra Prosa

Prosa disebut juga fiksi (fiction), yang berarti cerita rekaan. Prosa merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. Dengan kata lain, prosa fiksi merupakan karya imajinatif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh sehingga sulit dicari kenyataannya dalam dunia yata.
Sebagai karya imajinatif, cerita fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, cerita fiksi, menurut Alterbern dan lewis diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif tetapi biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, prosa fiksi dibagi dua yakni prosa fiksi lama dan prosa fiksi baru. Diantara profa fiksi lama yakni cerita cerita rakyat dan hikayat sedangkan jenis prosa fiksi baru yakni cerpen, novel, novelette, dll. Cerita pendek adalah prosa fiksi yang bentuknya pendek, tema dan pelakunya terbatas. Novelette adalah prosa fiksi yang tokohnya mengalami peristiwa yang bervariasi dan mengalami perubahan nasib. Roman adalah prosa fiksi yang diceritakan dari kelahiran sampai kematian.
Karakteristik dari prosa adalah penguraian, bahasa prosa digunakan oleh pengarang untuk menguraikan segala sesuatu secara jelas dan terinci. Unsur-unsur prosa meliputi alur, tokoh-penokohan, latar, sudut pandang, gaya, tema dan amanat. Alur adalah rangkaian peristiwa yang mengandung hubungan sebab akibat. Tokoh adalah pelaku yang terlibat dalam peristiwa. Penokohan adalah cara menampilkan tokoh dalam cerita. Latar adalah tempat, waktu, dan suasana yang berkaitan dengan peristiwa. Pusat pengisahan adalah pihak yang “menceritakan” peristiwa. Gaya adalah cara dalam pengungkapan peristiwa. Tema adalah idea tau gagasan pokok sebuah cerita. Amanat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita.





Genre Sastra Drama
Karakteristik drama adalah dialog. Bahasa drama disusun oleh pengarang dalam bentuk percakapan langsung. Naskah drama disusun dengan maksud untuk dipentaskan. Di dalam istilah drama terkandung dua hal. Pertama, drama dalam pengertian teks, yang dikenal dengan istilah lakon, kedua drama dalam pengertian pentas, yang dikenal dengan istilah teater.
Menurut jakob Sumarjo dan Saini KM. (1988: 135-139), anatomi lakon teks drama terdiri atas; 1) babak, yakni bagian dari naskah drama yang merangkum semua peristiwa yang terjadi di suatu tempat pada urutan waktu tertentu. Babak  biasanya dibagi dalam beberapa adegan, yakni bagian dari babak yang batasnya ditentukan oleh perubahan peristiwa yang berhubungan dengan datang atau perginya satu atau lebih tokoh cerita kea tau keluar pentas. 2) dialog yakni bagian dari naskah drama yang berupa percakapan antara tokoh satu dengan tokoh lain. 3) petunjuk pengarang, yakni bagian naskah yang memberikan penjelasan kepada penjelasan kepada pembaca atau kepada pemain  tentang pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, dan sifat tokoh cerita. 4) prolog, yakni bagian awal cerita yang merupakan pengantar naskah yang dapat berisi satu atau beberapa keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan. 5) epilog, yakni bagian akhir cerita yang berisi simpulan pengarang mengenai cerita. 6) salilokui, yaitu ungkapan pikiran dan perasaan seorang tokoh cerita yang diucapkannya kepada diri sendiri. 7) aside, yaitu ucapan tokoh cerita yang ditunjukkan langsung kepada pembaca/ penonton dengan pengertian tokoh yang lain yang ada dipentas dianggap tidak membayarnya.
Naskah drama terdiri atas unsur-unsur  yang meliputi. 1) plot atau alur cerita, dengan unsurnya (a) ketegangan (suspense), (b) dadakan (surprise), dan (c) Ironi dramatic, yakni peryataan pembuatan tokoh cerita yang seakan-akan meramalkan apa yang akan terjadi kemudian. Di dalam plot ini juga sering digunakan struktur dramatic model Aristoteles yang meliputi (a) ekposisi, yaitu bagian awal atau pembuatan dari sebuah cerita, (b) komplikasi atau penggawatan, yakni bagian cerita yang berisi salah satu tokoh cerita yang mulai mengambil prakasa untuk mencapai tujuan tertentu, sehingga muncul konflik, (c) klimak, yakni bagian cerita yang berisi presical dari konflik para tokoh cerita, (d) resolusi, yakni bagian cerita yang berisi proses pemecahan masalah yang memunculkan konflik, dan (e) konklusi, yakni bagian cerita yang berisi penyelesaian akhir masalah yang memunculkan konflik. 2) tokoh cerita, yakni orang yang mengambil bagian peran dan mengalami peristiwa yangbtergambarkan dalam plot. 3) bahasa, 4) tema. 5) dorongan motifasi, yakni unsure yang menentukan baik terhadap pembuatan maupun terhadap dialog yang diucapkan oleh tokoh cerita.
Teks drama dikategorikan sebagai wacana, bertolak dari pendapat Teeuw (dalam Sumarlam, ed. 2004:316) bahwa drama merupakan karya seni yag menggunakan bahasa sebagai medium. Karya sastra, termasuk drama sebagai teks tidak dapat disikapi sebagai entitas yang bersifat otonom. Drama sebagai teks harus disikapi sebagai fenomena yang merujuk pada aspek tekstual, ideasional, dan interpersonal. Dalam espek tekstual, drama dibentuk oleh sejumlah elemen, yakni kata, kalimat, proposisi, dan alat kohesi . Dilihat dari aspek ideasional, teks drama mengacu citra realitas secara simbolik. Adapun dilihat dari aspek interpersonal, teks drama dibentuk oleh aspek pengalaman, pengetahuan, penyikapan terhadap realitas kehidupan sejalan dengan proses kreatif yang ditempuh pengarangnya (Aminuddin dalam Sumarlam, ed. 2004:317).




















Pendekatan Terhadap Karya Sastra

   Yang dimaksud dengan pendekatan karya sastra adalah cara memandang atau mendekati karya sastra. Diantara para ahli yang membicarakan perihal pendekatan ini adalah M.H. Abrams dan Renne Wellek dan Austin Warren (Teeuw, 1998). Menurut Abrams ada empat  macam pendekatan terhadap karya sastra, yaitu pendekatan  mimetic, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatic, dan pendekatan objektif. Pendekatan mimitik adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan jalan menghubungkan karya sastra dengan alam (realitas). Pendekatan ekspresif adalah pendekatan karya sastra dengan jalan menghubungkan karya sastra dengan pengarangnya. Pendekatan pragmatic merupakan pendekatan karya sastra dengan jalan menghubungkan karya sastra dengan pembacanya. Pendekatan objektif adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan jalan mengkaji segala sesuatu yang ada di dalam karya sastra.

Menurut Wellek dan Warren (1989) karya sastra dapat didekati dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsic. Pendekatan ekstrinsik adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan jalan menghubungkan karya sastra dengan hal-hal yang berada di luarnya. Pendekatan intrinsic adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan jalan melihat segala sesuatu yang berada di dalam karya sastra. Dalam pendekatan ekstinsik ada empat kemungkinan, yaitu sastra dihubungkan dengan biografi pengarang, sastra dihubungkan dengan psikologi, sastra dihubungkan dengan masyarakat, dan sastra dihubungkan dengan pemikiran.
Dalam mengkaji hubungan sastra dengan biografi perlu diperhatikan adalah sejauh mana biografi member masukan penciptaan karya sastra, yang dipelajari hidup pengarang yang meliputi perkembangan moral, mental, intelektualnya, dan setudi sistematis tentang psikologi pengarang dan proses kreatif.

Dalam proses pengkajian hubungan sastra dengan psikologi tercapup empat hal, yakni studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi, studi proses kreatif, studi tipe dan hokum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan studi dampak sastra pada pembaca. Studi tentang hubungan sastra dengan psikologi ini berkembang menjadi pendekatan psikologi sastra.
Dalam proses pengkajian hubungan sastra dengan masyarakat tercakup tiga hal, yakni 1) sosiologi pengarang (profesi pengarang) dan institusi sastra. Persoalan yang muncul dalam hal ini adalah dasar ekonomi, latar belakang social, status dan ideology pengarang yang dilihat dari berbagai kegiatannya di luar karya sastra. 2) karya sastra, tujuan serta hal hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah social. 3) pembaca dan dampak social karya sastra. Studi tentang hubungan sastra dengan masyarakat ini sekarang berkembang menjadi pendekatan sosiologi sastra.

Dalam proses pengkajian hubungan karya sastra dengan pemikiran tercakup hubungan sastra dengan filsafat, sastra dilihat sebagai suatu bentuk filsafat atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Sastra dianalisis untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, dalam pendekatan intrinsic, Wellek dan Werren membahas: 1) hubungan sastra dengan seni dan mantra, 2) gaya dan stilistika, 3) cipta, metafora, symbol dan mitos, 4) sifat dan ragam fiksi naratif, 5) genre sastra, 6) penilaian terhadap sastra, dan 7) sejarah sastra. Semua hal dibahas bertumpu pada segala sesuatu yang berada dalam teks.













Formalisme Rusia
  
Formalism Rusia termasuk pendekatan objektif. Menurut Selden (1993: 1-8) formalism rusia adalah pelopor bagi analisis yang ditujukan sesuatu yang terdapat dalam teks.  Formalism rusia didirikan pada tahun 1995 oleh kaum linguis moskow, tokoh utamanyaadalah Roman Jakobson, Victor Sklovskij, Boris Eikembaum, dan Boris Tomoshevsky. Kaum formalis memperlakukan kesastraan sebagai suatu pemakaian bahasa yang khas yang mencapai perwujudannya lewat deviasi dan distorsi dari bahasa “praktis”.

Formalisme Rusia muncul pada dekade kedua abad XX dikarenakan adanya pemikiran dari beberapa ahli, salah satunya adalah esai Victor Sklovskij pada tahun 1994 tentang musnahnya seni-seni kuno dan belum munculnya seni baru. Harapan dari formalism Rusia sendiri adalah mengisolasi objek ilmu sastra dari sejarah dan politik sehingga ilmu sastra tersebut menjadi ilmu yang mandiri, dan lebih dihargai sebagai suatu ilmu.

   Studi ilmiah mengenail ilmu sastra dalam formalism Rusia diharapkan mampu meningkatkan kemampuan pembaca dalam membaca, memahami, dan mengkritik teks-teks sastra dengan cara yang sesuai dengan sifat-sifat sastrawinya. Pada akhirnya para ahli mampu menemukan beberapa sifat-sifat umum yang terkandung dalam sebuah karya sastra.

   Hal yang menonjol dalam formalism Rusia ini bisa dilihat dari adanya hubungan yang erat dengan penulisan kreatif (dalam bentuk puisi dan prosa). Konsepnya adalah, bahwa sastra mempunyai bahasa pengungkapan yang khas, dan bukan bertujuan menjadi bahasa praktis. Selain itu sastra mempunyai teknis khusus dalam pengungkapannya, yaitu bersifat tidak ekonomis dengan bahasa yang dipanjang-panjangkan karena lebih mementingkan kepuitisan. Konsep seperti itu dikenal dengan konsep “defamiliarisasi”, yaitu menggunakan bahasa yang masih dianggap aneh atau langka demi sebuah esensi puitik yang dimiliki.  

Defamiliarisasi dapat dilakukan dengan menggunakan  teknik memperlambat, mengukur, dan menyisipi. Defamiliarisasi dapat dilakukan dalam dua hal yakni sinkronis; menyimpang dari bahasa sehari hari, dan diakronis; menyimpang dari karya sastra sebelumnya, bagi kaum formalis yang terpenting dalam karya sastra adalah konsep kebaruan dan orisinalitas.

Beberapa konsep dasar dari formalism rusia adalah membebaskan sastra dari ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sejarah, sosiologi dan lainnya.  Terhadap puisi kaum formalis menganggap bahwa puisi  merupakan tindak bahasa (tanda-tanda), bukan imaji atau emosi. Puisi juga dipandang sebagai system tanda, lepas dari fungsi referensial dan mimetiknya. Yang terpenting dalam puisi adalah sarana bunyi (rima, matra, irama, aliterasi, asonansi).

Terhadap prosa kaum formalis berpendapat bahwa di dalam prosa ada dua hal yang perlu dibedakan yakni fibula (cerita) dan sjuzet (alur). Alur menurut aristoteles adalah susunan insiden-insiden yang membangun sebuah cerita. Adapun fibula (cerita0 adalah bahan dasar sebuah alur, peristiwa-peristiwa nyata, asli yang belum disusun dalam bentuk alur (sjuzet). Kaum formalis menganggap bahwa hanya sjuzet yang sungguh-sungguh bersifat kesusastraan, sedangkan fibula adalah bahan mentah yang menunggu proses pengolahan pengarang. Ontologi dalam formalisme Rusia adalah karya sastra itu sendiri, karya sastra yang berupa kumpulan kalimat yang khas yang tentu saja mempunyai fungsi-fungsi sesuai dengan bagaimana cara pengkajiannya.

                                          












Teori Struktural

 Ditinjau dari aspek pendekatan teori structural ini termasuk  pendekatan objektif. Teori structural merupakan tindak lanjut dari teori formalism rusia.

Teori Robert Stanton
Menurut Stanton (1965) elemen –elemen pembangun fiksi meliputi fakta cerita, sarana cerita, dan tema. Fakta cerita adalah hal-hal yang akan diceritakan di dalam sebuah karya sastra, fakta cerita meliputi, plot, tokoh, dan latar. Sarana cerita adalah hal-hal yang dimanfaatkan oleh pengarang dalam memilih  dan menata detil-detil cerita. Melalui sarana cerita memungkinkan tercipta pola yang bermakna sehubungan dengan fakta yang akan diceritakan. Sarana cerita meliputi judul, sudut pandang, gaya dan nada. Tema adalah makna cerita, gagasan sentral atau dasar cerita. Tema berbeda dengan topic. Topic dalam karya sastra adalah pokok pembicaraan, sedangkan tema merupakan gagasan pokok, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam karya sastra atau melalui karya sastra.

Teori Vladimir Propp
Vladimir Propp termasuk salah seorang perintis analisis structural. Dia menganalisis cerita rakyat dari struktur naratifnya samapai pada kesimpulan bahwa yang terpenting diselidiki dalam dongeng bukan tokoh tetapi fungsi tokoh dalam cerita. Teorinya disebut teori morfologi cerita rakyat. Prop dianggap sebagai  sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Objek penelitian prop adalah cerita rakyat 100 dongeng rusia yang dilakukan tahun 1928. Kesimpulannya semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya dalam sebuah cerita, pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah tetapi perbuatan dan peran-perannya sama.
Dalam hasil penelitiannya terhadap dongeng rusia, Propp menyimpulkan jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng berjumlah maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan dalam tuju ruang tindakan atau peranan yakni: 1) penjahat (vilian), 2) pemberi bekal (donor, provider). 3) penolong (helper), 4) puteri atau orang yang dicuri dan ayahnya (sought for perso and her father), 5) yang memberangkatkan (dispatcher), 6) pahlawan (hero), 7) pahlawan palsu (fals hero). Menurut selden, meskipun teori Propp didasarkan pada dongeng rusia dan dianggap tidak mewakili dongeng-dongeng Negara lain, tetapi fungsi-fungsi yang diuaraikan Propp dianggap hadir dalam jenis-jenis lain, seperti komedi, mitos, epic, roman, dan cerita pada umumnya. Oleh karena itu di Indonesia model penelitian Propp diharapkan dapat memberikan inspirasi dalam upaya mengkaji tradisi lisan yang sangat kaya.

Teori A.J. Greimas
   Greimas menyederhanakan tujuh lingkaran tindakan dari Propp menjadi tiga oposisi biner yang meliputi enam aktan (pelaku). Tiga oposisi biner  yang dimaksudkan adalah: 1) Subyek objek, (subyek versus object), 2) pengirim-penerima (sender versus receiver, distinotiur versus destinotaire, dan 3) pembantu penentang (helper versus apponent, adjuvant versus apposent).
Greimas juga mengemukakan model alur cerita yang tetap sebagai alur. Model itu terbangun dari berbagai tindakan yang disebut fungsi. Model itu dinamakan model fungsional atau rangkaian peristiwa yang secara fungsional dapat menentukan alur dalam aktan. Menurut graimas model tersebut mempunyai cara kerja yang tetap karena sebuah cerita memang selalu bergerak dari situasi awal sampai situasi akhir. Adapun operasi fungsionalnya terbagi dalam tiga bagian, bagian pertama merupakan situasi awal, bagian kedua merupakan tahapan transformasi, yang terdiri atas tiga tahapan yaitu tahapan kecakapan, utama, kegemilangan. Bagian ketiga merupakan situasi akhir.

Teori Claude Levi-Strauss
Claude Levi straus adalah ahli antropologi strukturalis. Dia menganalisis mitos Oedipus (dari yunani) dengan cara strukturalis dengan penggunaan model linguistic. Dia menyebut satuan mitos dengan istilah mytheme. Mytheme diorganisasikan dalam oposisi biner seperti satuan-satuan linguistic.Dia menyimpulkan ada dua pandangan tentang asal usul manusia, yaitu: 1) bahwa mereka lahir dari tanah, dan 2) mereka lahir dari hasil persetubuhan. Berbagai mytheme dikelompokkan dalam satu antithesis ini antara lain, 1) penilaian berlebih ikatan hubungan keluarga (Oedipus mengawini ibunya, Antigone menguburkan kakaknya secara melawan hokum), dan 2) kurang menilai pertalian keluarga (Oedipus membunuh ayahnya, Eteocles membunuh abangnya).Levi Straus tidak tertarik pada pertuturan naratif, tetapi tertarik pada pola structural yang member arti pada mitos. Ia mencari struktur fonetik mitos itu.


Teori Tzvetan Fodorov

    Fodorav dalam tata sastra menyatakan bahwa karya sastra dapa dijelaskan dari aspek verbal, aspek sintaksis, dan aspek semantic. Dalam aspek semantic ada dua jenis masalah, yaitu masalah formal dan subtansial. Masalah pertamuan adalah masalah formal, ada dipusat perhatian semantic. Fodorov membahas ragam bahasa. Ragam bahasa dapat ditinjau dari berbagai katagori, yaitu; 1) kongkret dan abstrak, (2) tingkat kiasan dalam wacana, (3) kehadiran atau tidak kehadiran acuan pada suatu wacana yang muncul sebelumnya, dan (4) subjektifitas bahasa yang dipertentangkan dengan objektivitas.
Dalam aspek verbal dikaji modus, kala, sudut pandang, dan penuturan. Modus mengemukakan tingkat kelahiran  peristiwa yang diceritakan dalam teks. Kala menyinggung hubungan antara dua jalur waktu, yaitu jalur waktu dalam makna fiksi dan jalur waktu dalam alam fiktif yang jauh lebih rumit. Sudut pandang yaitu dari mana kita mengamati objek dan kualitas mengamati (benar salah, sebagian atau seluruhnya.
Dalam aspek sintaksis dibahas, struktur teks, sintaksis naratif, serta kekhususan dan reaksi. Susunan teks meliputi; urutan logis dan temporal, dan urutan spasial. Sintaksis naratif merupakan cirri mitologi. Dalam bidang ini dibahas tiga satuan, yaitu; kalimat, sekwen, dan teks. Kekhususan dalam reaksi membahas aspek predikatif naratif. Kekhususan menyangkut berbagai bentuk dari satu predikat, sedangkan reaksi menyangkut dua macam predikat yang berbeda, yang primer dan yang sekunder dan aksi dan reaksi.












Teori  Psikologi Sastra
Psikologi berasal dari kata Yunani psyche, yang berarti jiwa, dan logos berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia Pemahaman tentang psikologi perlu ditanamkan kepada para pembaca karena banyak hal dapat dipelajari melalui pemahaman ini.
Secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, dan yang diklasifikasikan ke dalam seni (art), sedangkan psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku, perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Psikologi sastra mempelajari fenomena, kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkunganya. Dengan demikian, gejala kejiwaaan dapat terungkap lewat perilaku tokoh dalam sebuah karya sastra.             
Secara definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung di dalam suatu karya. Ada tiga cara yang dilakukan untuk memahami hunbungan antara psikologi dengan sastra, yaitu (1) memahami unsure-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (2) memahami unsure-unsur kejiwaan para tokoh fiksional dalam karya satra, (3) memahami unsure-unsur kejiwaan pembaca. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah kejiwaan para tokoh fiksinal yang terkandung dalam karya sastra (Ratna, 2003:343).
Istilah psikologi sastra memiliki empat pengertian, yakni studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi, kajian proses kreatif, dampak sastra terhadap pembacadan kajian tipe dan hokum, yakni hokum psikologi yang diterapakan pada karya sastra. Pengertian yang terakhir ini paling terkait dengan bidang sastra (Wellek dan Werren, 1993:90).
Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra (Endraswara, 2008:16). Pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui tiga cara, pertama melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakukan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk digunakan. Ketiga secara simultan menemukan teori dan objek penelitian (Endraswara, 2008:89).
Psikologi sastra adalah ilmu sastra yang mendekati karya sastra dari sudut psikologi. Dasar konsep dari psikologi sastra adalah munculnya jalan buntu dalam memahami sebuah karya sastra, sedangkan pemahaman dari sisi lain dianggap belum bisa mewadahi tuntutan psikis, oleh karena hal itu muncullah psikologi sastra, yang berfungsi sebagai jembatan dalam interpretasi. Psikologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah manusia, karena perkataan  psyche atau  psicho mengandung pengertian “jiwa”. Dengan demikian, psikologi mengandung makna “ilmu pengetahuan tentang jiwa”. Psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra.                                                                               
Sastra dan psikologi mempunyai hubungan fungsional yang sama berguna untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaanya gejala dan diri manusia dalam sastra adalah imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia riil (nyata). Keduanya bisa saling melengkapi dan mengisi untuk memperoleh pemaknaan yang mendalam terhadap kejiwaan manusia. Psikologi ditafsirkan sebagai lingkup gerak jiwa, konflik batin tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra secara tuntas.          Dengan demikian pengetahuan psikologi dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menelusuri sebuah karya sastra secara tuntas. Fiksi psikologi sastra adalah salah satu aliran sastra yang berusaha mengeksplorasi pikiran sang tokoh utama, terutama pada bagian yang terdalam yaitu alam bawah sadar. Fiksi psikologis sering mengunakan teknik bernama “arus kesadaran”. Istilah ini ditemukan oleh William James pada tahun 1890 dan digunakan untuk mengambarkan kepingan-kepingan inspirasi, gagasan, kenangan dan sensasi yang membentuk kesadaran manusia. Penelitian psikologi sastra memfokuskan pada aspek-aspek kejiwaan. Artinya, dengan memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh penelitian dapat mengungkap gejala-gejala psikologis tokoh baik yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan pengarang.
Daftar Pustaka
a.              Endraswara, Suwardi. 2003. Epistimologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
b.             Endraswara, Suwardi.2008. Metodologi Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Media Presindo
c.              Jan Van Luxemburg, Meiko Bal. Wellem G. Weststeijn: Pengantar Ilmu Sastra. PT. Gramadia Jakarta
d.             Pradopo, Rachmad Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
e.              Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori Metode, dan teknik penelitian Sastra dari strukturalisme hingga postrukturalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
f.              Selden, Raman. 1993. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini. Penerjemah Dr. Rachmat Joko Pradopo.
g.             Sumardjo, jakob dan Saini KM. 1998. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia
h.             Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
i.               Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga
j.               Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta : Gramedia 


                                                                                               
 suumber : handout Pengantar Teori Sastra Universitas Negeri Semarang

0 komentar:

Poskan Komentar